Peta InteraktifTelusuri Kota Wisata Batu melalui peta digital interaktif untuk mempermudah perjalanan anda!

Login

Masukkan alamat email dan password anda yang sah untuk login ke website Kota Wisata Batu



Lupa Password?
Beranda Sejarah Sejarah Kota Batu
Sejarah Kota Batu

Sejarah Kota Batu

Sejarah Kota Batu

Referensi foto http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Batu

Sejak abad ke-10, wilayah Batu dan sekitarnya telah dikenal sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan, karena wilayah adalah daerah pegunungan dengan kesejukan udara yang nyaman, juga didukung oleh keindahan pemandangan alam sebagai ciri khas daerah pegunungan.

Pada waktu pemerintahan Raja Sindok , seorang petinggi Kerajaan bernama Mpu Supo diperintah Raja Sendok untuk membangun tempat peristirahatan keluarga kerajaan di pegunungan yang didekatnya terdapat mata air. Dengan upaya yang keras, akhirnya Mpu Supo menemukan suatu kawasan yang sekarang lebih dikenal sebagai kawasan Wisata Songgoriti.

Atas persetujuan Raja, Mpu Supo yang konon kabarnya juga sakti mandraguna itu mulai membangun kawasan Songgoriti sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan serta dibangunnya sebuah candi yang diberi nama Candi Supo.

Ditempat peristirahatan tersebut terdapat sumber mata air yang mengalir dingin dan sejuk seperti semua mata air di wilayah pegunungan. Mata air dingin tersebut sering digunakan mencuci keris-keris yang bertuah sebagai benda pusaka dari kerajaan Sendok. Oleh karena sumber mata air yang sering digunakan untuk mencuci benda-benda kerajaan yang bertuah dan mempunyai kekuatan supranatural (Magic) yang maha dasyat, akhirnya sumber mata air yang semula terasa dingin dan sejuk akhirnya berubah menjadi sumber air panas. Dan sumber air panas itupun sampai saat ini menjadi sumber abadi di kawasan Wisata Songgoriti.

Wilayah Kota Batu yang terletak di dataran tinggi di kaki Gunung Panderman dengan ketinggian 700 sampai 1100 meter di atas permukaan laut, berdasarkan kisah-kisah orang tua maupun dokumen yang ada maupun yang dilacak keberadaannya, sampai saat ini belum diketahui kepastiannya tentang kapan nama "B A T U" mulai disebut untuk menamai kawasan peristirahatan tersebut.

Dari beberapa pemuka masyarakat setempat memang pernah mengisahkan bahwa sebutan Batu berasal dari nama seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim atau disebut sebagai Kyai Gubug Angin yang selanjutnya masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu. Dari kebiasaan kultur Jawa yang sering memperpendek dan mempersingkat mengenai sebutan nama seseorang yang dirasa terlalu panjang, juga agar lebih singkat penyebutannya serta lebih cepat bila memanggil seseorang, akhirnya lambat laun sebutan Mbah Wastu dipanggil Mbah Tu menjadi Mbatu atau batu sebagai sebutan yang digunakan untuk Kota Dingin di Jawa Timur.

Sedikit menengok ke belakang tentang sejarah keberadaan Abu Ghonaim sebagai cikal bakal serta orang yang dikenal sebagai pemuka masyarakat yang memulai babat alas dan dipakai sebagai inspirasi dari sebutan wilayah Batu, sebenarnya Abu Ghonaim sendiri adalah berasal dari JawaTengah. Abu Ghonaim sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang setia, dengan sengaja meninggalkan daerah asalnya Jawa Tengah dan hijrah dikaki Gunung Panderman untuk menghindari pengejaran dan penangkapan dari serdadu Belanda (Kompeni)

Abu Ghonaim atau Mbah Wastu yang memulai kehidupan barunya bersama dengan masyarakat yang ada sebelumnya serta ikut berbagi rasa, pengetahuan dan ajaran yang diperolehnya semasa menjadi pengikut Pangeran Diponegoro. Akhirnya banyak penduduk dan sekitarnya dan masyarakat yang lain berdatangan dan menetap untuk berguru, menuntut ilmu serta belajar agama kepada Mbah Wastu.

Bermula mereka hidup dalam kelompok (komunitas) di daerah Bumiaji, Sisir dan Temas akhirnya lambat laun komunitasnya semakin besar dan banyak serta menjadi suatu masyarakat yang ramai.

Sebagai layaknya Wilayah Pegunungan yang wilayahnya subur, Batu dan sekitarnya juga memiliki Panorama Alam yang indah dan berudara sejuk, tentunya hal ini akan menarik minat masyarakat lain untuk mengunjungi dan menikmati Batu sebagai kawasan pegunungan yang mempunyai daya tarik tersendiri. Untuk itulah di awal abad 19 Batu berkembang menjadi daerah tujuan wisata, khususnya orang-orang Belanda, sehingga orang-orang Belanda itupun membangun tempat-tempat Peristirahatan (Villa) bahkan bermukim di Batu.

Situs dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda atau semasa Pemerintahan Hindia Belanda itupun masih berbekas bahkan menjadi aset dan kunjungan Wisata hingga saat ini. Begitu kagumnya Bangsa Belanda atas keindahan dan keelokan Batu, sehingga bangsa Belanda mensejajarkan wilayah Batu dengan sebuah negara di Eropa yaitu Switzerland dan memberikan predikat sebagai De Klein Switzerland atau Swiss kecil di Pulau Jawa.

Peninggalan arsitektur dengan nuansa dan corak Eropa pada penjajahan Belanda dalam bentuk sebuah bangunan yang ada saat ini serta panorama alam yang indah di kawasan Batu sempat membuat Bapak Proklamator sebagai The Father Foundation of Indonesia yaitu Bung Karno dan Bung Hatta setelah Perang Kemerdekaan untuk mengunjungi dan beristirahat dikawasan Selecta Batu.

TagBatu, peristirahatan, keluarga kerajaan, pegunungan, pemandangan alam, raja sendok, mpu supo, wisata songgoriti, candi supo, mata air, keris, benda pusaka, kerajaan sendok, sumber air panas, gunung panderman, mbah wastu, abu ghonaim, bumiaji, sisir, temas, panorama alam

Komentar  

#5 kavana hafil kusuma 02 02 2012 16:50
coba diteliti lagi sejarahnya ya
Kutipan
#4 Hafizh 17 12 2011 11:49
sejarahnya mungkin lengkap kalau di wikipedia.
Kutipan
#3 adjie soeroso 04 11 2011 05:54
Untuk menulis runutan sejarah yang benar, janganlah mencampuradukka n realita dan
legenda (yang entah dari mana cerita itu dimunculkan seakan menjadi sebuah versi).
Keberadaan Candi Songgoriti, khususnya fungsi Candi serta untuk apa candi di bangun terlalu
naif sekali bila dikatakan sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan. Sesungguhnya ada banyak catatan dan kajian terhadap situs-situs peninggalan kerajaan di masa lalu. Melihat sejarah Batu juga terlalu naif bila memutus mata rantai seakan Batu ada dan dimulai pada masa 'perang jawa' (1825-1830), meski menyisipkan kejayaan 'Medang' seakan sebagai asesori. Keberadaan Belanda di era kolonialismenya sudah jelas sangat mempengaruhi kondisi wilayah Batu, dalam catatan berdasarkan penelusuran saya di lapangan jauh sebelum Batu menjadi sebuah kota administratif. (Karena dalam kolom ini dibatasi maka saya tidak bisa meneruskan komentar)
Kutipan
#2 rohim nursholeh 25 10 2011 10:50
sejarahnya coba di teliti kembali dan bukti bukti yang mendukung contohnya apakah ada naskah naskah yang membuktikan kelahiran atau sejarah kota batu
Kutipan
#1 ipung 09 05 2011 21:01
mohon sejarahnya di teliti lagi....mpu sindok hidup di jaman di nasti isyana kira2 abad 9M sementara mpu supo hidup di jaman majapahit pada abad 13-14 M
Kutipan

Tambah Komentar

  • Kode Keamanan
    Refresh

  •    
Pemkot BatuKota Wisata BatuVisit Indonesia

Menuju Kota Batu sebagai sentra wisata di Jawa Timur tahun 2012