Beranda Instansi / Perusahaan Pertanian Organik Kota Wisata Batu
Pertanian Organik Kota Wisata Batu

Pertanian Organik Kota Wisata Batu

pertanian organik kota wisata batu
Pengembangan pertanian organik resmi diprogramkan oleh Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pertanian. “Pertanian alami ini harus terus dibangun dan dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat dan untuk warisan yang baik bagi anak cucu kita mendatang,” kata Eddy Rumpoko, Walikota Batu dalam acara dialog bersama masyarakat petani se Kota Batu di Desa Torongrejo, Rabu 12 Januari 2012.
Program pertanian organik ini adalah sebuah inovasi demi peningkatan hasil pertanian serta demi kesehatan bila dikonsumsi karena bebas dari pestisida dan bahan-bahan kimia yang lain. Dan karenanya, Dinas Pertanian memprogramkan secara resmi untuk petani dan seluruh masyarakat di Kota Wisata Batu.
Eddy dalam acara pencanangan pertanian organik tersebut juga menyambut baik peran serta para akademisi dari Unbraw, para peneliti BPPT, STTP, serta dukungan dari Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur. Dikatakan, model pertanian organik sebenarnya telah dilakukan oleh para generasi pendahulu kita seperti kakek nenek yang sangat mahir dan ahli dalam mengerjakan lahan pertanian dengan konsep alami atau mengambil bahan-bahan organik, seperti kompos, kotoran hewan, daun-daun dan sebagainya. “Model seperti ini yang harus tetap dan terus dikembangkan dalam bercocok tanam di era globalisasi sekarang ini. Dan kalau ini terus dikembangkan akan menghasilkan hasil pertanian yang sehat dikonsumsi dan tentu mendatangkan keuntungan yang cukup besar bagi masyarakat petani itu sendiri,” katanya karena segmen pasar yang membutuhkan hasil pertanian organik sangat meluas meski harganya lebih mahal.
Pengembangan pertanian organik juga sangat mendukung konsep pengembangan pariwisata di Kota Wisata Batu, seperti wisata petik sayur organik, wisata alami proses pelaksanaan pertanian organik dan sebagainya. Kepala Dinas Pertanian Kota Batu Ir. Sugeng Pramono menjelaskan bahwa pertanian organik sebenarnya telah lama dilakukan oleh masyarakat Kota Batu seperti oleh Petani di Desa Sumberejo. Namun baru akhir tahun 2011 dikembangkan secara terprogram dan simultan oleh Dinas Pertanian dan berbagai kalangan tertentu melalui berbagai program. Dan tahap awal, Pemerintah memberikan stimulan pupuk organik dan berbagai penyuluhan langsung kepada masyarakat.
Sedangkan, Latar belakang dilaksanakannya program pengembangan pertanian organik di Kota Batu adalah pertama, untuk menjaga keseimbangan tanah dengan memperbaiki kondisi tanah. Hal ini dimaksudkan agar lingkungan tidak terdegradasi oleh akibat pengolahan yang salah dan karena pupuk anorganik. Kedua, Demi Kesehatan Manusia dimana hasil pertanian itu aman dikonsumsi dan bermutu bagus. Terutama, program ini mampu mengurangi residu kimia pada produk-produk pertanian. Ketiga, Faktor ekonomi, karena hasil pertanian pupuk organik ini mempunyai segmen pelanggan tersendiri yang tak mempersoalkan harga jual, walaupun harga hasil pertanian organik bisa 3 kali lipat lebih mahal ketimbang produk pertanian dari cara konvensional biasa yang memakai pestisida dan sejenisnya.

pertanian organik kota wisata batupertanian organik kota wisata batu
Dilaksanakan di 4 titik Lokasi
Program pengembangan pertanian organik di masyarakat secara langsung dilaksanakan dan dipantau oleh Dinas Pertanian, bersama dengan Para Akademisi dari Unibraw, para peneliti dari BPTP Karang Ploso, STTP Lawang, serta dukungan dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur.
Sementara di level teknik pelaksanaannya program ini adalah pertama, dengan cara Demonstrasi Pertanian yang dikerjakan di lokasi 4 titik yakni Desa Sumberbrantas, Sumberejo, Torongrejo dan Desa Pendem. Kedua, Penyuluhan atau sekolah lapangan di setiap kelompok tani (Gapoktan) melalui efektifitas pelatihan-pelatihan. Dari demonstrasi dan pelatihan ini, hasilnya kemudian dilokakaryakan dalam forum terbuka, sehingga kesimpulannya akan ditunjukkan dan dipraktekkan kepada para petani serta para investor, terutama dalam pengembangan pupuk organiknya.
Dalam pelaksanaan pertanian organik ini otomatis membutuhkan proses sekitar 3 – 5 tahun, terutama dalam mengembalikan kondisi tanah, sehingga mampu menghasilkan produk pertanian organik yang sehat dan bermanfaat secara berkelanjutan bagi anak cucu. Tetapi hasil pertanian yang dicanangkan oleh pemkot ini nantinya akan diuji di laboratorium dulu sebelum resmi dikembangkan dan diperuntukkan kepada masyarakat. Berbagai metode pelaksanaan pertanian organik oleh Dinas Pertanian adalah pertama, memberi dan menuangkan pupuk organik dari kotoran ternak, daun-daunan dan tulang sapi. Kedua, Memberikan subsidi pupuk organik yang didapatkan dari Pemerintah Pusat. Ketiga, membantu peralatan untuk membuat pupuk organik untuk diproses menjadi kompos, dan keempat yaitu Dinas melakukan pelatihan secara rutin kepada masyarakat untuk pembuatan pupuk organik. Pelaksanaan Program Pengembangan Pertanian Organik sejak pada tahap awal ini difokuskan pada 4 titik atau daerah yaitu di Desa Sumberbrantas dengan area 6,5 hektar, Di Desa Sumberejo 7,1 hektar, Desa Torongrejo 8,05 hektar, serta di Desa Pendem areanya seluas 10 hektar. Program ini dilaksanakan selama satu musim tanam, setelah itu dilanjutkan oleh para petani sendiri. “Dinas tinggal membimbing lebih jauh dan memperbaiki aplikasinya demi pengembangan pertanian di Kota Wisata Batu,” kata Sugeng.
pertanian organik kota wisata batu
Acara Pencanangan Pertanian organik di Desa Torongrejo ini dihadiri Pejabat dari Dinas Pertanian Provinsi Jatim, para pejabat di lingkungan Pemkot Batu, Para Kepala SKPD, Pimpinan DPRD Drs. Sugeng Hariono, Para Akademisi dan peneliti dari Unibraw, BPTP Karangploso, STTP Lawang, serta para Gapoktan dan masyarakat petani se Kota Wisata Batu. 
Tagpertanian organik, kota batu, program pertanian organik, desa torongrejo, dinas pertanian provinsi jawa timur, bptp, sttp lawang, gapoktan

Komentar  

#1 hariyadi 03 02 2012 11:09
Bagus sekali dikembangkan pertanian organik, sehingga akan terjaga kelestarian alam di kota Batu khususnya kondisi kesuburan sumberdaya alamnya tidak akan tercemar.
Banyak daerah yang subur tetapi sumberdaya alamnya diexploitasi secara membabibuta tak terkendali yang sebagai akibatnya terjadi kerusakan lingkungan, tercemarnya sumberdaya air dan kerusakan tanah sehingga lingkungan tidak dapat dinikmati. perluas daerah pertanian dengan sistem pertanian organik dan modern.
hariyadi cah desa beji
Kutipan

Tambah Komentar

  • Kode Keamanan
    Refresh

  •    
Pemkot BatuKota Wisata BatuVisit Indonesia

Menuju Kota Batu sebagai sentra wisata di Jawa Timur tahun 2012