
Melambunglah Ikon Wisata Batu
Tak lama sejak 2 Bus berfasilitas Lux berhenti tepat di depan Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Wisata Batu, Jalan Sultan Agung 7B, para Pejabat dan Staf menghampirinya di saat hari menjelang sunset, pada 14 Juli 2011. Mereka menata barang bawaan masing-masing di bagasi dan tempat duduk Bus itu, sesembari bercakap-cakap santai dan ketawa kecil. “Kita akan menikmati indahnya Pulau Bali dan akan beli oleh-oleh sesuai kemampuan keuangan kita tentunya,” seloroh diantara mereka dalam menemani keberangkatan rombongan ke Pulau Dewata, sebuah tempat impian berlibur para wisatawan.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Wisata Batu melakukan Observasi Lapangan ke Bali pada 14 – 16 Juli 2011. “Hal ini dimaksudkan disamping melakukan pengamatan lapangan tentang kemajuan dunia wisata di Bali, juga karena Kota Wisata Batu merupakan daerah sentra wisata di Jawa Timur yang harus banyak belajar tentang manajemen wisata maupun promosi pengembangan kawasan wisata yang melibatkan semua komonen masyarakat,” komentar Dra. Mistin MPd, Kadinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Wisata Batu sekaligus ketua rombongan dalam kesempatan pidato pemberangkatannya.
Kadang kita selalu termenung dan hanya terpaku diam meski mengamati keindahan alam Kota Wisata Batu yang luar biasa. Bukan lantaran tak menyukai atau benci melihat jati diri sebagai masyarakat asli Kota Wisata Batu, namun kita masih belum semampu Daerah Wisata lain seperti Bali dan Yogyakarta dalam mengelolanya. Maka itu, kata Mistin, belajar dari yang sukses, yang profesional dan berpengalaman adalah sangat penting sebagai bahan perbandingan dan pembelajaran demi pengembangan Kota Wisata Batu tercinta ini.
Memang Kota Wisata Batu berdiri masih belum begitu lama, yakni sejak 2001 lalu. Sebagai wilayah awalnya dibawah otoritas Pemerintah Kabupaten Malang Jatim, Kota Batu masih terus berbenah. Bahkan memproklamirkan diri sebagai Kota Wisata, sejak era awal Pemerintahan Kota yang dipimpin Walikota Eddy Rumpoko. Sejak saat itulah, semua jajaran pemerintah dan masyarakat mengembangkan komponen pariwisata. Dan seiring perkembangan daerah-daerah tujuan wisata, seperti Jatim Park 1, Museum Satwa, BNS, Selecta dan sebagainya, Kota Batu mulai kebanjiran wisatawan untuk menikmati keindahan Kota Batu dan Tempat-tempat Wisata. Demikian, peran pemerintah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam mengelola kepariwisataan dituntut profesional demi pengembangan ikon Kota Wisata Batu. “Pengamatan Lapangan ke Bali ini diharapkan akan mampu menumbuhkan ide-ide kreatif yang mampu menbawa Kota Wisata Batu makin populer di Jatim dan Indonesia serta akan berdampat pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tukas Mistin.
Di sepanjang perjalanan, rombongan Observasi Lapangan (OL) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ini terus berlenggang bersama lantunan musik-musik domestik dan sesekali menikmati Live Show Budaya Tradisional Ludruk melalui LCD Televisi di dalam Bus. Begitu mengesankan perjalanan itu, sekaligus membawa misi besar dalam angan yang panjang dari sebuah lembaga pemerintah yang harus mengangkat budaya seni tradisional demi peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kota Wisata Batu.
Sebanyak 68 personel Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu, membawa misi mulia meski tak jarang perjalanan itu dinilai dan dikasak-kusuk banyak pihak bahwa Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Wisata Batu hanya "ngelencer" dan pemborosan anggaran APBD saja. Begitu penoropongan dari luar instansi. Padahal, biaya yang dikeluarkan Dinas untuk OL itu tak sebanding dengan hasil yang dicapai dalam upaya mengembangkan Kota Wisata Batu demi peningkatan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang. Karena, hasil OL ini akan diaplikasikan - tentu dikombinasi dengan situasi kondisi Batu- sebagai program pengembangan Kota Wisata Batu di kancah Internasional. Laksana syair penghapus pilu, simponi yang indah di sepanjang perjalanan selalu menyejukkan hati. Betapa tidak, keindahan yang luar biasa alam Indonesia adalah anugerah Yang Maha Kuasa, tak dapat dielak. Bumi Indonesia seperti jalur pantai utara Jawa Timur hingga Pulau Dewata membuata tak bosan untuk menikmati dan mengeksploitasi. Meski itu hanya sekadar pandangan mata telanjang atau menghirup udara segarnya.
Tak terasa, tepat pukul 20.00 wib, rombongan OL Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Wisata Batu, tiba di Restoran Utama Raya Besuki untuk menikmati aneka menu dinner. Usai melepas lelah dan mengisi perut, Bus melaju berkecapatan diatas rata-rata untuk segera tiba di penyeberangan. Alhamdulillah, di Ketapang Banyuwangi tanpa mengantri untuk menyeberang. Diatas Kapal Feri, mereka begitu menikmati perjalanan, santai-santai dan asyik-asyik saja artinya tak ada yang masuk laut, mabuk darat atau kecapekan. Maklum pada Kamis pagi mereka masih aktif bekerja di kantor. Sesegera itu, tepatnya selang 1 jam dengan gelombang ombak yang tenang, rombongan menginjakkan kaki di Gilimanuk, ujung kulon dari Pulau Dambaan setiap wisatawan di Indonesia. Para manajemen promosi Kota Wisata Batu tersebut, pada pukul 05.00 WITA (Waktu Setempat), sampai di Area Pantai Sanur, istirahat sejenak untuk menyambut Sunrise.
Kisah seorang turis yang tak kelelahan meski badan lemes kurang tidur, tak menghinggapi mereka. Karena Bali is The Last Paradise in The World, apalagi di situ berpapasan dengan para turis mancanegara cantik nan ramah, seperti lembutnya gadis Jepang dan Gemulainya Cewek Korea yang kini tengah jadi pujaan remaja Indonesia. “Ohaiyo Gozaimasu......,” sapanya bersahabat sembari membungkukkan badan sebagai rasa hormat. “Hai..... Genki desu ka? Aisheteru yo......,” celetuk teman-teman sekenanya. Namun, itu masih disambutnya dengan bibir sensual yang mengembang. Padahal, arti kata-kata yang diselorohkan teman-teman adalah “Baik..... Apa kabar ? Aku juga mencitaimu.......” hehehe...
Setelah berpuas-puas menyambut Sunrise, para manajemen promosi Kota Wisata Batu itu, pada pukul 08.00 Wita mampir di Desa Wisata Kertalangu Sanur. Di situ mereka berkemas diri, sarapan pagi dan berbelanja aneka souvenir khas Bali mulai kaos, pakaian santai, batik, handicraft dan sebagainya. Kertalangu adalah sebuah tempat yang tak begitu luas, namun ditata begitu apik, bernuansa seni tradisional Bali dengan parabot ukiran kayu dan sudut-sudut lokasi yang penuh hiasan bunga dan janur sebagai sarana bersembahyang untuk memperoleh berkah dari Sang Hyang Widhi. Sederhana namun sangat menarik dan menguntungkan. Karena setiap hari lebih dari 50 bus dari berbagai rombongan wisata, mampir di Desa Kertalangu itu. Sungguh hebat kemasannya dan perlu kita tiru di Kota Wisata Batu.
Bali Mini Clasic Center
Para manajemen promosi Kota Wisata Batu, pada pukul 10.00 Wita melenggang menuju sebuah Desa Nyuh Kuning sebagai pusat seni di daerah Ubud Kabupaten Gianyar bernama Bali Clasic Center ( BCC ) atau Pusat Budaya Bali Mini. Ketika mulai memasuki areal BCC, rombongan disambut parade melasti oleh para gadis berpakaian adat dengan membawa umbul-umbul, penjor, calangsari dan tungku berisi ‘pras penyengeng’ sesajian buah-buah dihiasi bunga-bunga atau sekar dan janur diatas kepala. Mereka mempersilahkan rombongan mengikuti di belakangnya menuju arena panggung amphi teater dimana para pengunjung lain telah memenuhi kursi-kursi yang telah disediakan di tribun pengunjung. Lebih dari 250 orang dari dua rombongan wisatawan yang berbeda, memenuhi kursi-kursi tersebut.

Di sesi awal gemulai tarian khas Bali ‘Sekar Jagad’ diperankan 2 gadis Bali nan cantik selama 10 menit. Lalu tari joged Topeng Lucu dipersembahkan oleh seorang penari profesional hingga membaur ke penonton untuk berjabat tangan. Disitu para penonton bergembira dan berfoto bersama penari topeng lucu tersebut. Tak ketinggalan, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Wisata Batu Dra.Mistin MPd, memanfaatkan momen ini untuk diabadikan bersama sang penari. Acara dilanjutkan penampilan tari Topeng Tua. Seperti Tari Topeng lucu, para penonton pun terkesima dengan hanya gerakan tari khas Bali yang penuh dengan kelelahan dari sang penari berkarakter orang lanjut usia. Tari Barong Macan seni khas Daerah Gianyar menghiasi arena teater, disusul Tarian Joged yang diperankan 2 gadis Bali menyamperi para penonton untuk ikut berjoged di panggung. Di sana komandan seni tradisional Bidang Kebudayaan Kota Wisata Batu, Win Ekram SE, turut melenggang di panggung bersama gemulainya para gadis itu. Pun para staf lain seperti Harmoko dan para siswa dari rombongan berbeda, membaur di panggung. Sungguh meriah dan mengesankan.
Usai di panggung Amphi Teater tersebut semua pengunjung dibawa menyusuri area Bali Tempo Dulu yang berisi adat istiadat keseharian masyarakat Bali pada masa lalu, seperti Tumbuk Padi dari kayu, proses pembuatan minyak kelapa dan sebagainya. Sebelum itu, para pengunjung juga dihibur oleh Tari Barong Bangkal (berwujud Babi Hutan), sebuah tarian yang keluar hanya setiap 6 bulan sekali atau tepat perayaan Galungan dan Kuningan. Maklum, saat itu di Bali tepat Hari Raya Galungan. Makna ritual tari itu adalah sebuah perwujudan untuk menolak bala, membawa rezeki dan menyerap aura-aura yang negatif dari perjalanan kehidupan manusia. Penampilan Barong Bangkal juga diikuti dengan adat persembahan ‘Saweran’ sebagai perwujudan melimpahnya rezeki yang dibagikan pada sesama yang membutuhkan.
Rombongan didampingi Mbok Kadek, pemandu wisata (Guide) Gadis Bali yang ramah, melanjutkan perjalanan menuju Restoran Mukti Sari Denpasar untuk lunch. Sebagian dari rombongan menunaikan sholat jum’at di masjid tak jauh dari restoran. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju pantai Tanjung Benoa yang terkenal dengan berbagai permainan air seperti selancar air, paragliding hingga area pulau penyu yang indah dengan pemandangan di bawah laut yang bisa dilihat dari kapal beralaskan dinding kaca.
Tak lebih dari satu jam, bersantai di daerah Tanjung Benoa, rombongan 2 bus tersebut melenggang ke ‘Joger’ sebuah pusat oleh-oleh khas Bali. Namun, menuju akses ke ‘Joger’ Bus harus berhenti di area parkir dan rombongan menaiki angkutan ‘Kometra’, sebuah inovasi transportasi yang mengangkat pendapatan ekonomi masyarakat. Karena dari sana, kometra yang bertarif Rp. 6 ribu per orang bertujuan ke Tuban, Airport Ngurah Rai dan menuju ke Pantai Kuta Legian.
Pada malam pukul 08.00 Wita, rombongan mampir ke ‘Khrisna’ untuk menikmati makan malam dan berbelanja oleh-oleh khas Bali seperti ‘Joger’ namun dengan harga lebih miring. Selanjutnya, pukul 10.00 Wita, tiba di Hotel Nusa Indah 3 Toh Pati Denpasar untuk beristirahat. Esok harinya, tepat tanggal 15 Juli 2011, rombongan usai sarapan pagi di hotel, rombongan berangkat menuju Pantai Lovina. Namun sebelumnya, mampir ke pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Bali yang lain, kemudian pukul 13.00 Wita beristirahat di salah satu restoran di kawasan Bedugul untuk makan siang. Setelah itu, tepat pukul 17.30 Wita, tiba di Pantai Lovina, sebuah pantai indah di Singaraja yang terkenal dengan gugusan ikan lumba-lumba yang bermunculan di pantai pada pagi hari. Pada malamnya, rombongan melanjutkan perjalanan pulang melewati jalur pantai utara Bali menuju Gilimanuk. Setelah naik ke Kapal Feri di malam hari pukul 09.00 Wita, semua teman-teman staf dan para pejabat Dinas Pariwisata dan Kebudayaa Kota Wisata Batu, tak menduga akan sempoyongan dan mual. Karena saat itu ombaknya begitu besar hingga mencapai 4 meter dan kapal mengapung sekitar 1 jam mengantri untuk bersandar di Ketapang pantai ujung paling timur Pulau Jawa. Usai menapakkan di daratan pulau Jawa dan makan di restoran dekat Ketapang tersebut, rombongan bergegas naik bus dan pulang. Sungguh tak biasa, bus melaju sangat cepat sehingga tak lebih dari 5 jam, tepat pukul 02.00 Wib sampai di markas pegawai Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kota Wisata Batu. Karena, semua teman-teman pada kelelahan sehingga tidur nyenyak, tak terasa laju bus sangat kencang luar biasa menakutkan bila dipandang dengan mata terbuka.
Ada sebuah pelajaran sangat berharga dari perjalanan observasi lapangan ke Bali tahun 2011 ini. Karena disana Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Wisata Batu dapat belajar banyak dalam mengelola dan mempromosikan Kota Wisata Batu sebagai sentra wisata di Jawa Timur. “Banyak yang bisa kita lakukan seperti di Bali. Dan kita mempunyai banyak tempat dan jenis kesenian yang bisa kita tampilkan untuk dijual kepada para wisatawan yang berkunjung ke Kota Wisata Batu,” ucap Dra. Mistin MPd, yang bertekad akan menciptakan paket-paket wisata seni yang dikemas seperti di Bali. Dia mengambil contoh, Tari Topeng Batu, Tari Sembromo, Tari Pringorik yang asli khas Daerah Batu dapat dikemas sebagai paket wisata di Ampi Theater Gedung Kesenian Jalan Oro-Oro Ombo Batu. “Tentu itu dapat menjadi satu rangkaian paket wisata untuk dijual kepada para wisatawan yang berkunjung ke Kota Wisata Batu yang makin hari makin meningkat,” katanya seraya produk-produk seni asli daerah tersebut dapat juga menjadi ikon seni yang otomatis berdampak pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan profesi pekerja seni, bahkan melalui penjualan souvenir dan oleh-oleh dalam berbagai acara seni tersebut. Dan akhirnya, akan melambunglah ikon Kota Wisata Batu, Jatim.

