![]() |
![]() |
![]() |
|
Home / Artikel
Pengembangan Kampung Wisata Kungkuk (Bagian 1)By administrator [2010-01-21 10:42:51]Kampung Kungkuk, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji. Kota Batu Propinsi Jawa Timur memiliki potensi alam dan lingkungan yang eksotis yang dapat dikembangkan sebagai alternatif wisata di kota Batu selain wisata lain yang sudah berkembang di kota Batu. Alternatif program yang dikembangkan adalah Ancaman kerusakan lingkungan disekitar wilayah konservasi sangat tinggi. Menurut Goodwin (2002), penduduk lokal yang subsisten masih beraktifitas dalam kegiatan menjual kayu bakar, pencurian hasil hutan lain, dan perburuan satwa. Ancaman semakin besar pada wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan tanpa kemampuan berwirausaha. Penduduk lokal dapat mengembangkan jasa-jasa lingkungan dan sosial ekonomi spesifik di wilayahnya masing-masing. Momentum tradisi, budaya dan eksotisme lingkungan lokal dapat dikemas sebagai produk wisata dan dapat dikembangkan sebagai desa wisata yang mampu menarik pengunjung dari luar wilayah. Budaya lokal tersebut (Negara, 2006) pada gilirannya akan menghasilkan insentif untuk mengkonservasi system produksi pertanian, nilai-nilai tradisi, dan budaya serta lingkungan. Hal tersebut memerlukan proses pembelajaran diiringi kemampuan berwirausaha. Menelaah karakteristik kewirausahaan penduduk lokal sangatlah bermanfaat untuk menghasilkan model bagi pemberdayaan sosial ekonomi penduduk lokal dalam ekowisata. Konsepsi pembangunan berkelanjutan perlu diimplementasikan pada tingkat kapasitas lokal. Ekowisata merupakan salah satu pintu masuk atau sektor riil yang relevan dalam upaya konservasi lingkungan dan budaya lokal untuk pembentukan desa wisata. Namun demikian, upaya pengembangan desa wisata dengan melibatkan penduduk lokal bukan hal yang mudah. Kemampuan kewirausahaan (entrepreneurship) merupakan kata kunci bagi pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat agar mereka mampu mengoperasikan jasa ekowisata dan menikmati kesejahteraan. Studi deskriptif oleh Iwan Nugroho, 2006; Negara, 2006; Iwan Nugroho dan Negara, 2007) menunjukkan bahwa kewirausahaan dalam jasa ekowisata belum berkembang secara memuaskan. Penduduk desa Ngadas, terlibat dalam jasa pemanduan, transportasi, dan penginapan dengan kualitas layanan yang terbatas. Proses pembelajaran sangat penting agar jumlah penduduk lokal secara nyata memahami kewirausahaan ekowisata (Hannu, 2001;Juma and Timmer,2003). Cerita sukses berwirausaha pada jasa ekowisata, seperti di Tangkahan (TN Gunung Leuser, Lnagkat), desa Ceningan (Klungkung, Bali) atau Candirejo (Borobudur, Magelang), menuntut partisipasi yang tinggi dari seluruh faktor atau stakeholder dan telah berhasil menarik wisatawan untuk merealisasikan kesejahteraan penduduk lokal (iwan Nugroo, 2007). Dengan demikian, usaha pengembangan desa wisata melalui ekowisata dapat dimaknai serupa seperti halnya usaha tani yang dapat memberi pekerjaan dan penghidupan, serta menghasilkan pendapatan dan kesejahteraan. Pengalaman empirik tersebut perlu ditelaah lebih mendalam agar dapat diidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilan dan diaplikasikan ke tujuan desa wisata maupun ekowisata lainnya. Konsep pemberdayaan sosial ekonomi desa ekonomi desa wisata lahir dari tantangan mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan dilandasi dengan tata nilai masyarakat. Secara umum, karakteristik kewirausahaan ditentukan oleh faktor-faktor individu, masyarakat dan pemerintah (Juma and Timmer, 2003; Centre for Rural Entrepreneurship atau CRE, 2003; Suryana, 2004; Burnet, 2000). Faktor sosial ini menjadi komponen penting pemberdayaan sosial ekonomi desa wisata. Menurut Juma and Timmer (2003), pembelajaran sosial (sosial learning) menjadi bagian penting dimana individu-individu memahami jiwa-jiwa kewirausahaan dalam pemberdayaan sosial ekonomi desa wisata. Melalui proses pembelajaran partisipatif tersebut terukur dukungan masyarakat terhadap berkembangnya pebisnis baru, dan mengajak bangkit kembali pebisnis yang kurang beruntung. Faktor pemerintah dalam mendukung kewirausahaan meliputi bantuan teknis dan permodalan, insentif masuk pasar, pendidikan kewirausahaan, mempermudah akses ke pasar, parsitipasi pemuda dan wanita (Burnet, 2000), serta kebijakan fiskal yang penuh insentif, tersedianya infranstruktur, struktur pasar tanpa praktek olipogoli/monopoli, berkembangnya organisasi bisnis, dan iklim politik yang demokratis (Blair, 1991). Perilaku berwirausaha yang merupakan salah satu syarat untuk pemberdayaan sosial ekonomi desa wisata, menurut Suryana (2004) dipengaruhi oleh dua komponen, yakni pola tanggapan dan peluang. Keduanya adalah sebagian unsure lingkunagn yang mempengaruhi sikap dan menghasilkan keluaran perilaku entrepreneur (Pranowo, 2005). Pola tanggapan terdiri dari karakteristik perorangan dan kelompok yang sudah diuraikan sebagai faktor individu dan sosial. Sementara pola peluang pada dasarnya adalah faktor pemerintah. Hasil usaha dari perilaku wirausaha dalam pemberdayaan sosial ekonomi desa wisata mengalir kepada seluruh stakeholder ekowisata. Entrepreneur dan perusahaan memperoleh profit dan manfaat corporate. Penduduk lokal memperoleh kesejahteraan, kesempatan kerja dan harga diri. Sementara pemerintah memperoleh manfaat makro ekonomi, kunjungan turis, atau manfaat ekologi. Entrepeneur jasa ekowisata yang merupakan pemberdayaan sosial ekonomi desa wisata perlu dibekali serangkaian pelatihan agar menguasai sedikitnya pengertian, aspek-aspek teknis, hingga pasar ekowisata. Intensitas oleh penduduk lokal menuntut kesabaran yang tinggi. Pengalaman Rusia membutuhkan empat sampai tujuh tahun hingga penduduk lokal mendapatkan perbaikan kualitas hidup yang selayaknya (Hanu, 2001). Berangkat dari persoalan di atas maka perlunya Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi Mayarakat Untuk Pengembangan Desa Wisata Dusun Kungkuk Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu adalah sebagai upaya untuk pengurangan kemiskinan mulai saat ini dilakukan secara komprehensif dan terfokus guna mengatasi bertambahnya jumlah penduduk miskin dan pengganguran dan terbatasnya lapangan kerja. Dalam rangka memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi masyarakat tersebut maka kami rancang program ini dimaksudkan untuk memperkuat dukungan pada program-program regular penanganan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja dengan pendekatan penguatan ekonomi di wilayah perdesaan serta penanganan masalah sosial. Program ini dilakukan dengan pendekatan penguatan ekonomi lokal di wilayah perdesaan dengan melibatkan masyarakat sehingga program ini diharapkan dapat memperkuat ekonomi dan sosial melalui penguatan sumber daya manusia dalam mengelola sumber daya lokal. Namun yang paling penting dari program ini adalah dukungan penuh masyarakat untuk menjadi masyarakat yang berubah dan diperlukan semua pihak dalam mebrikan pengertian dan sosialisasi pada masyarakat setempat pentingnya perubahan paradigm dalam membangun kampung wisata. Tujuan
SasaranSasaran program yang direncanakan adalah untuk pemberdayaan kampung wisata pada kelompok Usaha Kampung Wisata dengan meletakan sasaran pada:
|