Peta InteraktifTelusuri Kota Wisata Batu melalui peta digital interaktif untuk mempermudah perjalanan anda!

Login

Masukkan alamat email dan password anda yang sah untuk login ke website Kota Wisata Batu



Lupa Password?
Beranda Ekonomi dan Bisnis / UKM Apel dan Pemberdayaan Petani
Apel dan Pemberdayaan Petani

Apel dan Pemberdayaan Petani

apel dan pemberdayaan petani

Manis Indah Bergizi. Sebuah tradisi kreatif menyeruak di kalangan petani apel hingga menjadi potensi eksklusif dari Kota Wisata Batu, Jatim. Tak sekedar apel sebagai buah segar, namun merangsek menjadi sebuah produk wisata, oleh-oleh hingga menumbuhkan kesejahteraan petaninya di era globalisasi ini.
Adalah idola dari segala jenis buah, Apel tak kunjung surut penikmatnya. Segala usia sangat mendambakannya, karena buah ini tak berimplikasi pada gangguan kesehatan, sebaliknya apel mengandung gizi tinggi untuk kesehatan tubuh manusia dan makhlik hidup lain. Bahkan kian menjamurnya produk apel merah impor, produk pertanian favorit Kota Batu ini, walau sempat surut dan tersudut di pasaran, kini melangit kembali lantaran mengembang sebagai sebuah produk wisata dan produk olahan unggulan sebagai oleh-oleh bagi wisatawan, serta memberdayakan para petani meski harga jualnya sebagai buah menurun. Apel tetap populer dan sangat menguntungkan secara ekonomi.
Sebuah tradisi para petani Kota Batu sejak era kolonial bahwa Apel dijadikan tumpuhan kegiatan ekonomi masyarakat karena keunggulan apel di semua dimensi ketimbang buah lain. Maka itu, tak hanya pembeli yang berbondong-bondong berebut menggaetnya, namun para tengkulak pun turut meraup keuntungan segedenya. Sehingga, sejalan perkembangan kehidupan modern dan globalisasi pasar, peran para pebisnis apel itu berefek pada kemerosotan ekonomi para petani akibat jatuhnya harga apel. Berlama-lama itu menimpa para petani Batu, maka inovasi ditumbuhkan oleh Pemerintah Kota dan Pihak Terkait untuk memberdayakan para petani apel. Di situlah, marak produk Wisata Petik Apel dan Makanan khas Olahan dari Apel sebagai Oleh-oleh bagi wisatawan seperti Kripik Apel, Jenang Apel, Minuman Sari Apel serta Sambel Apel.
Menggapai pioner kini, buah Apel Batu dalam perjalannya pernah mengalami “Tragedi”. Karena harga tersungkur lantaran apel impor, juga kurangnya perhatian para petani dan pemerintah dalam upaya peningkatan mutu buah apel, disamping maraknya penggunaan unsur pestisida atau obat kimia anorganik yang kian merusak komponen kesuburan tanah yang menyebabkan anjloknya kapasitas hasil panen sehingga merosotnya nilai jual di pasaran.
Begitu banyak persoalan yang membelit perkembangan buah apel ini, Pemerintah Kota Batu melalui Dinas terkait, berupaya mengatasinya dengan berbagai program seperti pemberdayaan petani melalui go organik, pemanfaatan buah apel kualitas dua dan tiga yang kurang diminati pembeli buah segar. Intinya, Pemkot sangat mendorong dan memfasilitasi masyarakat untuk menciptakan produk olahan apel kw1 dan kw2, serta meningkatkan promosi melalui wisata petik apel.

apel dan pemberdayaan petaniapel dan pemberdayaan petani

Pembudidayaan Buah Apel

Buah Apel di Kota Batu mulai dikenal sejak jaman colonial. Ketika itu, pada 1920-an tanaman apel muncul dan saat itu bibitnya masih sulit didapatkan. Namun berkat ketelatenan Mr Pegtel dan asistennya Kandar berhasil membiakkan bibit apel, sehingga dengan pembudidayaannya buah favorit di Indonesia ini berkembang begitu mengesankan dan mudah didapatkan hingga sekarang. Bahkan kesuksesan itu menjadikan Kota Batu terkenal dengan sebutan Kota Apel.
Tanaman Apel ini pembudidayaannya melalui benihnya, namun karena berbagai kesulitan untuk mendapatkan benih dan itu hanya dapat diperoleh di Balai Penelitian Tanaman Dinas Pertanian Jawa Timur yang berada di Desa Tlekung Kota Batu. Maka itu berbagai upaya dilakukan para petani, diantaranya dengan mengembangkan anak tanaman apel (Onderstam) seperti tanaman buah pisang. Setelah Onderstam tersebut agak besar kuat dan berakar, dipisah dan ditanam dilahan tertentu yang diinginkan. Atau dengan cara okulasi yakni ranting pohon apel yang telah tua dipotong, ditempel dan ditali hingga muncul akar kemudian dipotong ranting tersebut dan dikemas dalam polybag yang dikasih tanah. Dan proses ini selama minimal 3 minggu menunggu perakaran untuk menjadi bibit tanaman apel sempurna dan siap ditanam di daerah berketinggian sekitar 800 – 1200 derajad diatas permukaan laut. “Jika ditanam di atas tanah berketinggian lebih dari itu, bisa tumbuh berkembang dan subur saja namun bunga dan buahnya akan rontok karena terlalu dingin,” tukas Arrohman Mustofa, petani apel dari Desa Tulungrejo Kota Batu. Tetapi bila hanya untuk pembibitan tanaman apel, di daerah terlalu dingin juga tidak masalah dan dapat dilakukan.
Di daerah Junggo dan Gardu Desa Tulungrejo ini berketinggian 1150 diatas permukaan laut, sehingga banyak dikembangkan tanaman apel oleh para petani. Hal ini juga dilakukan oleh Masyarakat di Desa Bumiaji yang merupakan pusat pengembangan tanaman buah apel di Kota Sentra Wisata Jatim ini. Dalam pelaksanaannya, penanaman bibit apel ini idealnya dilaksanakan pada areal 3m x 4m untuk satu pohonnya, tapi bagi masyarakat petani guna efisiensi lahan para petani di Batu menanamnya di areal 2m x 2m untuk satu pohon. “Ini dilakukan karena para petani menginginkan hasil yang maksimal dengan memanfaatkan lahan yang tersedia,” ujar Tofa. Proses perawatannya sejak ditanam hingga berbuah memerlukan waktu sekitar 4 tahun. Namun setelah itu, pembuahan dapat dipanen setiap 6 bulan sekali sampai selama 40 tahun tanpa peremajaan. Hanya saja, umumnya para petani melakukan peremajaan sendiri di selah-selah proses perawatan pohon apel yang telah tumbuh dan berbuah. Dari sinilah para petani apel dapat menikmati pemberdayaan tanaman apel secara berkelanjutan hingga turun temurun.
Dalam proses perawatannya, perkembangan tanaman apel ini tergantung pada perlakuannya. Untuk menuju kesuksesan hasil, berbagai cara dilakukan yaitu pertama, pemupukan. Pemupukan ini memakai pupuk anorganik buatan pabrik yang dijual di pasaran serta memakai obat-obatan kimia lainnya. Pada awalnya, cara ini mampu meningkatkan hasil yang cukup maksimal dan menguntungkan para petani. Namun, dalam perjalanannya beberapa lama, cara ini mengalami “persoalan” karena pemakaian pupuk kimia mengakibatkan kerusakan tanah yang berakibat pada kerusakan lahan dan menurunnya hasil panen. Sehingga, dengan bantuan Pemerintah Daerah dan berbagai pihak, saat ini mulai dikembangkan proses pengembangan tanaman apel dengan ala tradisional seperti dulu yaitu menggunakan pupuk organic atau alami, seperti pupuk kandang dari hewan sapi, kambing, ayam serta kompos dari dedaunan dan sebagainya. “Cara ini mulai diberlakukan pada pertanian apel, karena penekanan pemakaian pupuk kimia dapat mengubah dan mengembalikan unsur hara dalam tanah yang sangat dibutuhkan dalam pengembangan berbagai macam tanaman demi meningkatkan hasil panen,” papar Tofa.
Kedua,
penyiangan. Cara ini dilakukan dengan pembabatan rumput dan pengolahan tanah dengan cangkul dan sebagainya agar tanaman lain tersebut tidak mengganggu pertumbuhan tanaman apel. Ketiga, pemangkasan. Dilakukan pada dahan atau tunas yang tidak berguna, seperti dahan kering atau ranting daunnya terlalu rimbun atau menggerombol karena ini menyebabkan unsur hara dan vitamin dalam tanah tidak terserap dengan baik, yang akhirnya sangat mempengaruhi pembungaan. Ranting yang terlalu banyak dan kering juga harus dipotong. Keempat, perempesan. Untuk mempercepat proses pembungaan pada tanaman apel, dilaksanakan perempesan atau pengguguran daunnya dengan cara manual memakai tangan. Karena hal ini berfungsi mempercepat masa pertumbuhan atau pembungaan. Setelah digugurkan daun-daun itu maka akan tumbuh kembali dedaunan. Dan di antara dedaunan itu terdapat stomata atau bintik kecil pada mulut daun yang itu akhirnya itu tumbuh menjadi bunga terus menjadi apel. Kelima, penyemprotan. Buah apel kecil diberi hormon dan vitamin dengan cara disemprot memakai obat-obat seperti sepa dan sebagainya. Namun diakui, pemakaian obat kimia ini berusaha ditekan secara perlahan dengan mengganti unsur alami seperti, air seni kelinci, ampas tahu, gula tetes tebu dan sebagainya. Dalam penyemprotan untuk pemberian hormon tersebut dilakukan dalam interval waktu setiap 5 hari di musim kemarau, tapi di musim penghujan bias mencapai 2-3 hari sekali. Bahkan idealnya dalam satu periodik hingga panen, penyemprotan dapat dilakukan 20 – 30 kali dalam 5 bulan.

Hasil Panen dan Berbagai Persoalan

Penamanam apel, pada umumnya, dilaksanakan di areal 400 meter persegi atau satu gawang, mencapai 70 pohon. Dari kapasitas tersebut, hasil pemanenan selama 6 bulan sekali, mencapai 20 – 50 kg per pohon. Sehingga, total hasilnya mencapai 1 – 2 ton per gawang, dengan catatan biaya perawatan mulai obat dan tenaga kerja, mencapai 2 – 3 juta rupiah per gawang. Ketika harga apel di pasaran naik mencapai 8 ribu rupiah per kilo, otomatis petani akan menghasilkan sekitar 6 juta per gawang setiap 6 bulan. Namun, jika harga apel anjlok hingga 3 ribu per kilo, maka berdampak pada kerugian hasil petani. “Faktor inilah yang mengakibatkan para petani apel bangkrut dan mengancam keberlangsungan pemberdayaan tanaman apel untuk seterusnya,” kilah Hernanto Sasmiko SE, seorang petani apel dari Desa Punten Kota Batu.
Persoalan itu, katanya, para petani bersama Pemkot melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu berupaya melakukan berbagai upaya pemberdayaan para petani apel.
Pertama,
pengemasan program wisata petik apel. Bersamaan dengan prioritas program Pengembangan Pariwisata Kota Batu, Program Wisata Petik Apel dilaksanakan di berbagai desa yang merupakan basis petani apel yakni Desa Tulungrejo, Desa Bumiaji dan Desa Punten. Dalam Program Wisata Petik Apel, menawarkan paket wisata kepada para tamu dimana langsung diajak ke kebun untuk memetik apel dan menikmatinya sepuasnya di lokasi. Harganya bervariasi, seperti paket rombongan sekitar 30 orang, sebesar 15 ribu rupiah per orang. Harga tersebut sudah termasuk welcome drink minuman sari apel, makan apel sepuasnya di kebun serta pemandu untuk berwisata petik apel. Menurut Mustofa, di Desa Tulungrejo paket wisata yang dikomandaninya ini dikoordinir melalui kelompok sadar wisata (pokdarwis). Dan telah berjalan sekitar dua tahun, hingga kini tamu wisatawan berbagai daerah telah menikmati paket ini seperti rombongan tamu dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi, Kalimantan, Singapura, Malaysia, Korea dan Belanda. Tercatat, rata-rata per bulan tamu yang datang berwisata petik apel melalui pokdarwis, sekitar 500 – 1000 orang. Belum lagi, para wisatawan yang menikmati paket wisata petik apel melalui kelompok lain atau usaha mandiri lainnya di Desa Tulungrejo. “Secara keseluruhan yang datang ke Desa Tulungrejo untuk paket ini mencapai sekitar 4 sampai 5 ribu orang,” katanya mengaku promosi paket ini masih melalui kartu nama dan nomor telepun saja.
Kedua
,
Jenis Buah Apel Segar yang dijual, namun yang dibawahnya atau kualitas nomor 2 atau 3, apel tersebut dijadikan produk olahan seperti Kripik Apel, Minuman Sari Apel, Jenang Apel dan Sambel Apel. Dalam pemberdayaan menjadi produk olahan, apel kw1 dan kw2 ini mempunyai nilai cukup tinggi karena harga sari apel, kripik apel, jenang apel, sambel apel di pasaran cukup mendapatkan peminat. Bahkan, pemasaran produk olahan apel dari Kota Batu tersebut telah menjamah ke luar daerah seperti Surabaya, Kediri, Yogyakarta hingga Jakarta.
Dalam rangka menunjang keberadaan usaha produk olahan dari masyarakat, Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan, telah membantu berbagai kelompok masyarakat dan individu yang membuat produk olahan dari apel menjadi Badan Usaha resmi berbadan hokum atau UKM. Sehingga, dalam keberlanjutannya, para UKM ini dibantu oleh Diskopperindag untuk memperoleh modal, juga pelatihan manajemen dan sebagainya. M. Chorie, Kadiskopperindag Kota Batu, menyebutkan bahwa selama ini Pemkot Batu telah memberikan pelatihan manajemen setiap tahun kepada para UKM dan Koperasi di Kota Batu. Bahkan permodalan juga diperuntukkan untuk pengembangan mereka, seperti yang telah dilakukan kepada Kelompok Masyarakat Bromo Semeru atau Brosem dengan memfasilitasi dana mulai 30 juta hingga 200 juta rupiah.
Demikian hal, Pemkot melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu, juga telah membina para pokdarwis di setiap Desa. Pembinaan dan pelatihan ini bertujuan agar pokdarwis dapat membuat berbagai paket wisata berdasarkan potensi daerahnya masing-masing dan mengelola paket-paket tersebut demi pemberdayaan masyarakat, terutama para petani apel. “Program pelatihan dan pembinaan pokdarwis ini kami lakukan secara terus menerus dan telah memasuk agenda rutin tahunan Dinas Patiwisata dan Kebudayaan. Bahkan, kami lakukan koordinasi langsung setiap saat ke semua pokdarwis yang berada di seluruh Desa di Kota Batu untuk menjalankan paket wisata sesuai potensi daerahnya masing-masing,” papar Dra. Mistin MPd, Kadinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu.
Wiryo
, pengusaha produk olahan apel UKM Putra Fajar Desa Tulungrejo menyebutkan buah apel saat ini sudah dapat dimanfaatkan secara keseluruhan menjadi produk olahan seperti kripik apel, sari apel, jenang apel dan sambel apel. Dengan memanfaatkan buah apel yang kualitas nomor dua dan tiga dapat memberikan nilai plus bagi produk olahan apel karena permintaannya begitu banyak. Sedangkan yang kualitas terbaik dijual dalam bentuk buah segar di pasaran. “Saat ini kami telah memproduksi hingga mencapai 300 kilo bahan baku apel per harinya. Dan itu diolah menjadi kripik matang siap saji menjadi 50 kilo karena harus diolah dengan proses pembekuan, pengeringan, oven dan sebagainya,” katanya seraya merinci harga kripik apel siap saji adalah 50 – 60 ribu rupiah per kilo, sedangkan yang biasanya dikemas dalam pak plastik seberat 100 gram dengan harga kulakan sekitar 6 ribu rupiah. Maka dapat dikalkulasi bahwa dengan memanfaatkan apel kw1 dan kw2 dengan harga lebih murah dapat menghasilkan kripik apel dengan keuntungan 7-8 kali lipat. Begitupun, Wiryo dapat memberdayakan masyarakat sekitarnya sebagai tenaga kerja 40 orang.

apel dan pemberdayaan petaniapel dan pemberdayaan petani

Hal itu masih hanya untuk produk kripik apel, belum terinci produk jenang apel, sambel apel, dan minuman sari apel. Tentu saja ini akan menambah nilai plus dan keuntungan lagi yang berlipatganda. Sampai saat ini, di Kota Wisata Batu telah bermunculan para UKM untuk produk olahan apel dan buah-buah lainnya, karena permintaan pasar semakin meningkat tajam. Tentu saja, peran pemerintah untuk memberdayakan masyarakat melalui pemberdayaan petani apel dan produk olahan apel dapat berjalan dengan baik. Dan Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kini terus mempromosikan melalui berbagai media nasional dan on-line website www.kotawisatabatu.com untuk perkembangan Kota Batu sebagai sentra wisata nasional umumnya dan khususnya meningkatkan kesejahteraan petani apel di Kota Wisata Batu.

Tagapel, apel batu, kota apel, kota wisata batu, kripik apel, jenang apel, minuman sari apel, sambel apel, oleh oleh khas kota batu, ukm, petani apel, wisata petik apel

Tambah Komentar

  • Kode Keamanan
    Refresh

  •    
Pemkot BatuKota Wisata BatuVisit Indonesia

Menuju Kota Batu sebagai sentra wisata di Jawa Timur tahun 2012