
Sesuai Tradisi dan Adat Istiadat secara turun temurun, Komponen Masyarakat Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Wisata Batu Jatim, melaksanakan upacara ritual ‘Selamatan Bersih Desa’ di berbagai tempat yang dianggap keramat pada jumat pagi, 8 Juli 2011. Laksana anjuran para sesepuh desa bahwa ketentraman, keselamatan dan aktivitas masyarakat akan diridloi Alloh SWT agar berbanyaklah bersedekah dan saling member pada sesamanya, seperti melalui selamatan ini. Demikian tujuan yang ditekankan pada inti prosesi selamatan oleh warga masyarakat di Desa Punten yang menyebar di 5 titik atau tempat di seluruh dusun. Pertama, selamatan di Area Sumber Air Ngesong, Lodengkol yang dilaksanakan oleh warga Rw.05 Banyuning. Kedua, selamatan di Punden Gadung Melati oleh masyarakat di Dusun Krajan. Ketiga, Selamatan di Punden Ketupuk Mbah Gimbal oleh warga Dusun Kungkuk. Keempat, di Punden Watudakon yang dilaksanakan oleh warga Dusun Gempol. Dan kelima, selamatan dilaksanakan oleh warga Dusun Payan di Punden Mbah Gameng Wijoyo.
Acara selamatan di setiap titik tersebut dihadiri oleh para sesepuh warga, seluruh anggota masyarakat yang diwakili setiap kepala keluarga, para aparat desa, Kepala Desa, serta para tamu undangan.Dimulai jam 05.30 wib pagi, prosesi acara selamatan dilakukan di Sumber Air Ngesong. Di sumber air paling besar di Desa Punten itu diawali dengan penyembelihan ayam warna putih mulus yang darahnya mengucur ke sumber air tersebut. Hal itu diartikan bahwa warga masyarakat memberi ganti pengorbanan jenis ayam tersebut kepada “yang Mbau Rekso Pemilik Sumber” yang kemudian diambil airnya untuk kehidupan masyarakat.
Konon asal muasal prosesi itu, menurut Kepala Desa Punten Hernanto Sasmiko SH, adalah daerah sumber ini terkenal angker dan diyakini ada “Penunggu”-nya, namun warga masyarakat sangat membutuhkan air tersebut. Saat juru kunci berkomunikasi gaib dengan “Sang Mbau Rekso” Sumber tersebut, menyimpulkan bahwa warga diperbolehkan mengambil air sumber untuk kehidupan asalkan diganti dengan pengorbanan manusia perawan dan jejaka. Dengan berbagai pertimbangan dan musyawarah warga masyarakat ketika itu, dikomunikasikan lagi dan agar persembahan pengorbanan itu diganti selain perawan dan jejaka. Akhirnya, disetujuilah sebuah binatang ayam dengan warna keseluruhan putih mulus termasuk semua bulunya. Dari situlah hingga kini, setiap tahun dilaksanakan acara persembahan korban penyembelihan ayam putih mulus yang darahnya mengucur ke sumber tersebut, setelah itu ayam ditusuk bambu dan dibakar kemudian bambo itu ditancapkan ke tanah. “Bagi siapapun yang mau diperbolehkan memakan ayam tersebut,” katanya.
Seusai prosesi dan selamatan di sumber air tersebut, kades dan rombongan melanjutkan lawatan ke Punden Gadung Melati bersama masyarakat Dusun Kerajan mengadakan selamatan, lalu ke Punden Ketupuk (Mbah Gimbal) di Kungkuk, terus menuju ke Punden Watudakon bersama warga masyarakat Dusun Gempol, serta terakhir ke Punden Mbah Gameng Wijoyo di Dusun Payan.
Berbagai sesajian dalam tumpeng dipersembahkan dalam selamatan bersama tersebut. Komponene isian tumpeng meliputi nasi putih dan nasi kuning, dilengkapi lauk pauk Sayur Hijau sawi, kecambah dengan sambael “krawu” kelapa, sambel goring tempe, kentang goring bumbu, ikan ayam panggang, ikan mujair dan ikan bendeng utuh. Dan tak ketinggalan dan merupakan ciri khas lauknya adalah telor rebus dengan sambel pecel yang dimaksudkan bahwa dengan persembahan telur bumbu pecel, karena daerah angker di dusun tersebut banyak membuat anggota masyarakat yang kesurupan. Setelah para pendahulu masyarakat berkomunikasi secara gaib dengan “Sang Mbau Rekso” maka disetujuinya diberi imbalan persembahan telur rebus sambel pecel. Kon adat itulah yang kemudian dipakai masyarakat di Desa Punten dalam membuat tumpeng selalu memakai telur rebus sambel pecel. Demikian hal pembuatan sesajen selalu lengkap dengan komponen Nasi bucet “Sak Puluk” Jenang Abang, Sekar Wangi, Lombok Merah dan bumbu, Telur Ayam Kampung, Minyak Goreng, Tembakau “Susu” , Kemenyan, Dupa, Kaca Sirit, Borek, Kelapa Utuh, Buah Pisang. Sesajen dibuat sebanyak 29 takir yang diletakkan di setiap sudut yang dianggap Angker di Seluruh wilayah Desa Punten.
Menurut sesepuh Dusun Payan, Sakrip, persembahan dan sesajian tersebut dilaksanakan masyarakat setiap tahun pada bulan “Ruwah” atau sebelum puasa. Hal ini dimaksudkan di tempat para yang dianggap keramat, melalui sedekah tumpeng dan sesajian memohon kepada Alloh SWT agar masyarakat Desa Punten secara keseluruhan dalam beraktivitasnya memperoleh ridlo dan “Rahayu Wilujeng”, keselamatan dirinya, keluarganya, seluruh warga, keselamatan hewan peliharaannya serta semua yang ada di wilayah Desa Punten selalu memperoleh keridloanNya. Amien.

